Different, No matter what, Back to Back, Perspective, Teamwork, Create Possibilities, Evaluation, Better than, Etc.

ARCHIVE

Baramata Mini Exhibition "Take Route 12" & Pop Up Market

Pada penghujung tahun 2024, Baramata akan mempersembahkan sebuah acara Baramata Mini Exhibition “Take Route 12” & Pop-Up Market. Acara ini akan diselenggarakan pada tanggal 20-22 Desember di Askara Park, Batu. Pameran ini merupakan rangkuman artikel dari perjalanan kreatif Baramata dari 2022 hingga per-desember 2024 dan akan berkolaborasi dengan Studio Rekayasa dengan menampilkan visual mapping dengan pendekatan yang berbeda. Baramata ingin menggali lebih dalam makna perjalanan hidup dan eksplorasi identitas melalui media artwork dengan tema re-design artikel. dan tidak hanya sekadar pameran, melainkan juga sebuah undangan bagi para pengunjung untuk melihat makna perjalanan mereka sendiri dan bagaimana rute-rute yang diambil dalam sebuah perjalanan yang bisa membentuk identitas serta persepsi mereka terhadap berbagai hal.

#BaramataMiniExhibition #Takeroute12 #Studiorekayasa

Epa Limited "A Quiet Chatroom #02"

9 Desember 2024, kami di Studio Rekayasa mendapat kesempatan istimewa untuk menjadi bagian dari pertunjukan audiovisual reaktif pertama di Batu dan Malang. Acara ini diselenggarakan oleh EPA Limited di bawah naungan Askara Kolektif, menghadirkan kolaborasi lintas disiplin antara seniman suara dan visual selama empat jam penuh. Di panggung ini, kami bekerja bersama seniman suara internasional asal Swiss, Luis Sanz, serta talenta kreatif Jawa Timur seperti Mathces, Fairus, Arjun, Esar, Ardis, dan Chinesefuut. Masing-masing membawa pendekatan unik, menciptakan pengalaman yang memadukan suara eksperimental, visual interaktif, dan inovasi budaya dalam satu kesatuan yang hidup.Sebagai bagian dari tim visual, kami merasakan sendiri bagaimana energi ruangan menjadi bahan bakar bagi karya yang kami hadirkan. Fokus kami adalah membuat visual yang tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut berinteraksi dengan musik dan penonton, merespons secara langsung setiap perubahan ritme dan suasana. Meskipun ada keterbatasan teknis, kami percaya justru di sanalah ruang kreatif terbuka lebar—bagaimana memanfaatkan batasan sebagai peluang untuk mengeksplorasi cara baru dalam bercerita lewat cahaya, ruang, dan gerak.Melihat proses para seniman lain, kami terinspirasi oleh keberagaman pendekatan yang mereka bawa. Luis Sanz membangun soundscape algoritmik yang memadukan open-source code dengan nuansa emosional yang dalam. Entropi memproses suara dan perasaan sehari-hari menjadi ritme yang bermakna. Yatta memadukan rekaman lapangan dengan manipulasi elektronik untuk menciptakan lanskap suara yang terasa ekologis. Mathces mengubah suara alam dan kebisingan sehari-hari menjadi pengalaman imersif dengan teknologi yang terjangkau. Chinesefuut menggabungkan estetika tradisional lokal dengan tren visual global seperti glitch art, sementara Ardis mengolah data real-time menjadi visual yang bereaksi terhadap energi penonton. Semua ini berpadu menjadi satu ekosistem kreatif yang saling melengkapi.Bagi kami, acara ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang pertemuan yang jarang terjadi di Jawa Timur—tempat di mana teknologi bertemu tradisi, dan seniman dapat bereksperimen tanpa batasan genre atau medium. Melihat penonton terlibat dan merespons secara langsung membuat kami semakin yakin bahwa karya audiovisual tidak hanya untuk dilihat atau didengar, tapi juga untuk dialami. Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam bagi Studio Rekayasa, sekaligus menjadi pengingat bahwa seni kontemporer Indonesia memiliki daya saing di panggung global, asalkan kita tetap setia pada akar budaya yang membuatnya unik. Kami berharap akan ada lebih banyak kesempatan seperti ini, di mana kolaborasi dan inovasi berjalan beriringan, membentuk pengalaman yang mampu menyentuh dan menghubungkan banyak orang.

MIX COPY PASTE

Studio Session